OPTIMALISASI PEMBELAJARAN MELALUI SISTEM AMONG
KI HADJAR DEWANTARA
Lilik Setiono
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta yang berjumlah 25 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi angket, observasi, dan tes hasil belajar. Validasi data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut; PTK ini berakhir pada siklus kelima karena telah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian. Sistem among dilaksanakan dengan pendekatan kecerdasan majemuk dan gaya belajar V-A-K peserta didik, sikap laku among (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri Handayani) pada guru, penggunaan media multisensori yang variatif, dan strategi pembelajaran aktif. Keaktifan peserta didik pada siklus kelima sebanyak 72% dengan kategori sangat tinggi. Sikap peserta didik tiap siklus meningkat dan pada siklus kelima sebanyak 96% peserta didik memiliki sikap sangat baik selama pembelajaran. Prestasi belajar mengalami peningkatan di setiap siklus dan pada siklus kelima terdapat 80% peserta didik mencapai ketuntasan belajar dengan nilai rerata kelas sebesar 72,27.
Kata Kunci : Penelitian Tindakan Kelas, Sistem Among, Keaktifan, Hasil Belajar
Abstract
This study was a classroom action research study in which each cycle consisted of four stages, i.e. planning, implementation, observation and reflection. The research subjects were 25 Year X students of SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta. The data were collected through questionnaires, observations, and an achievement test. The data validity was enhanced through triangulation. The data were analyzed using the qualitative descriptive technique.
The results of the study were as follows. This classroom action research study ended in Cycle 5 because the criteria for the research success were satisfied. The sistem among was implemented using the multiple intelligence approach and students’ V-A-K learning styles, teachers’ caring attitudes (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani), the use of varied multisensory media, and active learning strategies. The students’ activeness in Cycle 5 showed that 72% of the students were very active. The students’ attitudes improved in each cycle, and in Cycle 5 96% of the students showed very good attitudes during the learning process. The learning achievement improved in each cycle and in Cycle 5 80% of the students attained the MMC with a mean of 72.27.
Key Word : Classroom Action Research, Among System, Activeness, Learning Achievement
PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya dijelaskan pada pasal tiga bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan pengertian dan tujuan pendidikan di atas, sekolah sebagai penyelengara pendidikan harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang seoptimal mungkin sehingga seluruh potensi peserta didik dapat berkembang dan terbentuk kepribadian peserta didik yang utuh.
Sejalan dengan tujuan pendidikan di atas, maka guru harus memfasilitasi dan membimbing para peserta didik untuk dapat berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kondisi dan kemampuan peserta didik masing-masing. Guru harus memperlakukan peserta didik sebagai individu bukan sebagai kelompok kelas karena pada dasarnya setiap peserta didik memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda-beda sehingga harus diperlakukan secara beda pula. Guru harus dapat memadukan teknik-teknik yang sesuai dengan kondisi setiap peserta didik sehingga pembelajaran dapat berhasil dengan baik.
SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa adalah sekolah swasta yang bernaung di bawah Majelis Ibu Pawiyatan Tamansiswa, berdiri pada tahun pelajaran 2004/2005. Peserta didik di SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa berasal dari keluarga dengan taraf ekonomi menengah ke bawah dan daerah yang berbeda-beda.
Berdasarkan pengamatan selama pembelajaran pada semester gasal tahun pelajaran 2009/2010, latar belakang yang berbeda tersebut menyebabkan adanya kecenderungan sebagian peserta didik yang lebih distruptif di sekolah terutama anak-anak yang kurang perhatian di dalam lingkungan keluarga. Ada beberapa peserta didik yang menunjukkan perilaku negatif seperti suka memberontak atau bermain-main, mencari perhatian di kelas, bahkan ada peserta didik yang malas belajar di dalam kelas meskipun sudah di sekolah dan ada peserta didik lebih senang di luar kelas daripada mengikuti pelajaran di dalam kelas.
Karakteristik individu peserta didik yang beragam ini seharusnya diperlakukan penanganan dengan menerapkan metode pembelajaran yang tepat. Terdapat sebagian peserta didik yang memiliki tingkat keaktifan yang tinggi namun kurang terarah. Sebagian yang lain adalah peserta didik yang cenderung pasif, hanya mendengarkan saja apa yang disampaikan oleh guru. Bahkan beberapa peserta didik yang justru melakukan kegiatan di luar pembelajaran.
Hasil ujian akhir semester gasal tahun pelajaran 2009/2010 peserta didik di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa masih rendah, yaitu hanya 32% yang telah mencapai ketuntasan belajar dan pada ujian tengah semester, hanya 16% yang mencapai ketuntasan belajar pada mata pelajaran IPA. Oleh karena itu, peserta didik harus mengikuti ujian remidi sehingga dapat mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum (KKM).
Berdasarkan hasil angket motivasi, minat dan sikap peserta didik selama proses pembelajaran pada semester gasal tahun pelajaran 2009/2010 menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik memiliki motivasi, minat dan sikap yang rendah terhadap mata pelajaran IPA. Terdapat 96% peserta didik memiliki motivasi yang rendah, sedangkan 4% lainnya pada kategori sangat rendah. Sebanyak 80% peserta didik memiliki minat yang rendah terhadap mata pelalajaran IPA dan hanya 20% peserta didik dengan minat sangat rendah. Sikap terhadap mata pelajaran IPA pada kategori rendah sebanyak 72%, dan 18% pada kategori sangat rendah.
Keaktifan peserta didik selama pembelajaran IPA pada semester gasal juga masih rendah. Hal ini diperparah dengan jam mata pelajaran IPA yang tertelak pada jam ketujuh sampai jam kesembilan, atau tiga jam terakhir setelah istirahat kedua. Tingkat ketidakhadiran sampai di atas lima kali dalam satu semester mengakibatkan beberapa peserta didik tidak melaksanakan aktifitas pembelajaran baik berupa praktikum maupun tugas individu. Hanya 44% peserta didik yang aktif mengerjakan aktifitas pembelajaran.
Permasalahan tersebut dicoba diatasi melalui penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menerapkan pembelajaran sistem Among yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara. Pembelajaran sistem Among bersendikan kepada kodrat alam dan kemerdekaan. Kodrat alam diartikan sebagai potensi atau karakteristik individu peserta didik dan kemerdekaan diartikan sebagai sistem pembelajaran aktif. Sistem among juga mensinergikan antara peran dan aktifitas baik guru maupun peserta didik. Jadi sistem among dipilih sebagai bentuk upaya optimalisasi proses pembelajaran IPA di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kolaboratif. Desain penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah mengikuti desain dari Kemmis & Taggart (Rochiati Wiriaatmadja, 2005: 66). Langkah-langkah yang ditempuh dalam PTK ini antara lain: 1) penetapan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, dan 5) perencanaan tindak lanjut. Jenis penelitian tindakan ini adalah penelitian tindakan praktis (Practical Action Research). Penelitian tindakan praktis lebih menekankan pada bagaimana melakukan untuk memajukan pendidikan lewat proses penelitian tindakan.
Teknik pengumpulan data PTK ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan penarikan kesimpulan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini menggunakan tiga teknik, yaitu teknik observasi, teknik tes dan teknik angket. Observasi digunakan untuk mengetahui semua kegiatan atau aktivitas yang terjadi selama pembelajaran di kelas. Kemajuan prestasi belajar peserta didik dilihat menggunakan teknik tes. Di akhir penelitian, teknik angket digunakan untuk mengetahui tanggapan peserta didik terhadap proses pembelajaran.
HASIL-HASIL PEMBAHASAN
Pembelajaran sistem among dilaksanakan dengan memperhatikan dua sendi, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Kodrat alam berarti potensi pribadi peserta didik yang sifatnya alamiah, syarat untuk mencapai kemajuan secara optimal. Kodrat alam dalam pembelajaran diartikan sebagai potensi peserta didik sebagai modal cara belajar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya belajar V-A-K dan multiple intelligences.
Guru merangsang dan memfasilitasi pembelajaran pada semua semua peserta didik dengan menangani kebutuhan untuk mengetahui dengan cara beragam. Guru harus memfasilitasi pembelajaran dengan memberikan pelajaran yang mengoptimalkan setiap sistem pembelajaran alamiah. Dengan menyediakan berbagai cara belajar melalui sistem-sistem yang berbeda, peserta didik bebas memperoleh informasi baru dengan cara yang paling nyaman bagi mereka.
Banyak cara untuk melibatkan peserta didik aktif yang membutuhkan interaksi sosial sambil tetap memberikan materi pelajaran dan memenuhi kebutuhan peserta didik lain, tanpa memberi perhatian khusus pada gaya belajar setiap peserta didik. Guru bisa mengikuti gaya belajar yang disukai peserta didik secara umum sekaligus memperoleh rasa nyaman dalam sistem among. Setelah ini terwujud, guru bisa mengenali kebutuhan gaya belajar setiap peserta didik dan membantu mereka menggunakannya untuk lebih mengendalikan pembelajaran mereka.
Potensi peserta didik secara alamiah lainnya adalah kecerdasan. Pendekatan yang digunakan untuk menerjemahkan kodrat alam adalah teori multiple intelligences yang dikembangkan oleh Gardner. Peserta didik memiliki semua unsur kecerdasan majemuk, hanya ada beberapa yang lebih menonjol dibanding yang lainnya. Beberapa kecerdasan yang dikembangkan oleh Gardner adalah linguistik, matematika, visual, musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis.
Kecerdasan tertentu digunakan sesuai dengan kebutuhan, sementara gaya belajar merasuk dan mempengaruhi perilaku peserta didik dalam berbagai lingkungan dan situasi. Teori kecerdasan majemuk Gardner berkaitan dengan isi sementara gaya belajar berfokus pada proses pembelajaran. Kedua pendekatan ini digunakan dalam penelitian ini sebagai bentuk penerjemahan kodrat alam.
Sendi kedua dalam pembelajaran sistem among adalah kemerdekaan. Kemerdekaan berarti hak untuk mengatur hidup. Kemerdekaan ini sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatn lahir batin diri agar dapat memiliki kepribadian yang kuat dan dapat berfikir serta bertindak merdeka. Kemerdekaan dalam proses pembelajaran diartikan sebagai kebebasan peserta didik dengan segenap kekuatan lahir maupun batin untuk mendapat pengetahuan dari proses belajar.
Kemerdekaan peserta didik untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri membutuhkan metode yang tepat agar optimalisasi pembelajaran tercapai. Strategi pembelajaran aktif adalah salah satu pilihan yang tepat. Dengan strategi pembelajaran aktif, guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses pembelajaran. Peran peserta didik dalam proses pembelajaran sebagai subjek sekaligus objek pembelajaran. Artinya peserta didik berperak aktif untuk mendapatkan pengetahuannya sendiri sekaligus dikuatkan dan diluruskan jika terjadi miskonsepsi.
Siklus pertama dilaksanakan pada hari senin, 26 April 2010 selama tiga jam pelajaran dengan pokok bahasan struktur bumi, litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Metode yang digunakan adalah mind mapping dan media yang digunakan adalah kertas plano, spidol dan lakban. Aktivitas peserta didik adalah berdiskusi dengan anggota kelompok tentang tema yang telah ditentukan kemudian membuat peta konsep atau minimal membuat rangkuman berupa gambar. Setelah itu, setiap kelompok mempresentasikan di depan kelas. Guru memberi penguatan dan membantu menyimpulkan setelah semua kelompok presentasi.
Siklus kedua dilaksanakan pada hari senin, 3 Mei 2010 dimana pokok bahasannya adalah efek rotasi dan revolusi bumi. Metode yang dipilih adalah group to group yang bertujuan untuk mengoptimalkan gaya belajar yang cenderung auditori dan kecerdasan intrapersonal. Media pembelajaran yang digunakan adalah lembar kerja kelompok. Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok kemudian membahas tema yang ditentukan. Secara bergantian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Guru memberi penguatan dan membantu menyimpulkan di akhir pembelajaran.
Siklus ketiga dilaksanakan pada hari senin, 10 Mei 2010 dengan pokok bahasan gunung berapi dan gempa bumi. Metode yang dipilih adalah learning start with a question dan media yang digunakan adalah lembar kerja kelompok, laptop, dan lcd proyektor. Pada siklus ini, guru mengawali dengan menampilkan beberapa gambar yang berkaitan dengan gunung berapi dan gempa bumi. Setelah itu, peserta didik membentuk kelompok dan masing-masing peserta didik membuat pertanyaan. Lembar pertanyaan ditukar silang dengan anggota kelompok lain dan masing-masing kelompok membahas jawabannya. Setelah selasai, masing-masing peserta didik membacakan pertanyaan sekaligus jawabannya. Seluruh peserta didik diperbolehkan mengomentari. Guru berperan sebagai moderator selama diskusi berlangsung dan meluruskan jika terjadi miskonsepsi pada peserta didik.
Siklus keempat dilaksanakan pada hari senin, 17 Mei 2010 dimana pokok bahasan yang dikaji adalah Tsunami dan antisipasi bencana alam. Metode yang dipilih adalah power of two dan media yang digunakan adalah lembar kerja kelompok, laptop, dan lcd proyektor. Kegiatan diawali dengan pembagian kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari dua orang. Masing-masing kelompok menganalisis 5W1H tentang pokok bahasan yang ditentukan. Setelah menganalisis dan menulis di lembar kerja kelompok maka diskusi kelas dimulai. Guru memfasilitasi diskusi kelas dan di akhir pembelajaran menyampaikan beberapa konsep disertai animasi tentang terjadinya tsunami.
Siklus kelima dilaksanakan pada hari senin, 24 Mei 2010 dengan pokok bahasan Global Issue. Metode yang dipilih adalah studies created studies dengan media laptop dan lcd proyektor. Peserta didik diberitahu untuk membentuk kelompok dan memilih tema yang disediakan kemudian mencari informasi di luar pembelajaran. Masing-masing kelompok menyiapkan file presentasi yang berisi tentang tema pilihannya. Saat proses pembelajaran berlangsung, masing-masing kelompok mempresentasikan menggunakan media laptop dan lcd proyektor. Guru membantu proses diskusi kelas agar berjalan lebih optimal.
Prestasi belajar peserta didik adalah salah satu fokus penelitian ini. Asumsi sederhananya adalah jika pembelajaran diatur sedemikian rupa sehingga kenyamanan dan konsentrasi peserta didik meningkat maka tingkat pemahaman akan meningkat pula. Seiring pemahaman peserta didik yang baik maka akan menhasilkan pengaruh positif terhadap keaktifan serta prestasi peserta didik. Untuk mengetahui prestasi belajar peserta didik dilakukan dengan tes baik berupa tes tertulis maupun tes tanya jawab saat diskusi berlangsung.
Kemajuan belajar peserta didik selalu meningkat di setiap siklus selama penelitian. Tingkat pemahaman terhadap pokok bahasan tertentu telah dikuasai oleh sebagian kecil peserta didik. Tugas guru adalah bagaimana agar seluruh peserta didik di dalam kelas dapat memiliki kepahaman terhadap pokok bahasan dengan cara dan waktu yang berbeda-beda. Setidaknya peserta didik memiliki penambahan pemahaman yang labih baik terhadap pokok bahasan setelah pembelajaran. Rekapitulasi prestasi belajar peserta didik dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1
Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Didik Tiap Siklus
SIKLUS I II III IV V
RERATA PRESTASI BELAJAR 36,8 37,87 47,73 52,27 72,27
NILAI MAKSIMUM 53,33 73,33 80 86,67 100
Prestasi belajar peserta didik pada siklus pertama hanya sebesar 36,80 untuk rerata kelas dan nilai maksimumnya sebesar 53,33. hal ini dikarenakan peserta didik belum dapat konsentrasi pada pokok bahasan yang didiskusikan dan cenderung melakukan aktivitas di luar pembelajaran seperti menggambar di buku tulis. Nilai rerata kelas pada siklus kedua naik menjadi 37,87 dan masih jauh dari nilai KKM.
Prestasi belajar peserta didik selalu mengalami kenaikan. Pada siklus ketiga, rerata kelas menjadi 47,73 dan pada siklus keempat naik menjadi 52,27. Mulai siklus kedua, beberapa peserta didik yang mendapat nilai di atas sama dengan 66,67, yaitu 73,33. Bahkan pada siklus ketiga dan keempat, beberapa peserta didik mendapatkan nilai 80,00 dan 86,67. Tetapi dari ketiga siklus ini, nilai rerata kelas belum mencapai batas minimum ketuntasan. Oleh karena itu, penelitian tetap harus dilanjutkan ke siklus berikutnya, yaitu siklus kelima. Hasil prestasi peserta didik pada siklus kelima mengalami kenaikan dengan rerata kelas sebesar 72,27. Nilai rerata kelas pada siklus kelima ini lebih besar dibanding nilai KKM, yaitu 66,67. Artinya bahwa rerata kelas telah mencapai kriteria ketuntasan. Tetapi hal ini belum dapat dijadikan alasan untuk meakhiri siklus penelitian ini. Sesuai dengan kriteria keberhasilan penelitian ini, harus ada 70% peserta didik yang memiliki nilai di atas sama dengan 66,67. oleh karena itu, harus dianalisis apakah terdapat minimal 70% peserta didik yang telah dinyatakan tuntas. Rekapitulasi data ketuntasan peserta didik tiap siklus disajikan pada tabel 2.
Tabel 2
Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Peserta Didik
SIKLUS I II III IV V
JUMLAH PESERTA DIDIK 0 4 8 11 20
PERSENTASI (%) 0 16 32 44 80
Dari tabel rekapitulasi ketuntasan peserta didik terlihat bahwa pada siklus pertama tidak ada satupun peserta didik yang memiliki nilai lebih besar sama dengan 66,67. Pada siklus kedua mulai ada peserta didik yang memiliki nilai lebih besar sama dengan 66,67 sebanyak 4 orang. Dilanjutkan pada siklus ketiga sebanyak 8 peserta didik atau sama dengan 32%. Kenaikan jumlah peserta didik yang tuntas belajar terjadi pada siklus keempat sebanyak 44%. Berdarsarkan persentasi ketuntasan dan prestasi peserta didik pada siklus keempat, maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus berikutnya. Pada siklus kelima, pesertasi ketuntasan peserta didik menjadi 80% atau 20 orang dari 25 peserta didik. Karena nilai prestasi peserta didik sudah mencapai rerata kelas sebesar 72,27 dan persentasi ketuntasan sebesar 80% peserta didik, maka penelitian ini selesai pada siklus kelima. Hal ini dikarenakan telah memenuhi salah satu kriteria keberhasilan penelitian, dimana minimal 70% peserta didik telah dinyatakan tuntas dalam pembelajaran.
Implementasi pembelajaran sistem among tidak hanya memperhatikan faktor peserta didik saja, tetapi juga faktor guru. Dalam sistem among, guru harus melaksanakan sikap laku among. Sikap laku among harus tercermin nyata dalam proses pembelajaran sistem among. Ciri khusus sikap laku among tercermin dalam semboyan “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani.”
Sikap laku among ini adalah salah satu kunci keberhasilan proses pembelajaran sistem among karena peranan guru untuk menjaga proses pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya dan tetap memperhatikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dengan sikap laku among ini bukan berarti pembelajaran bersifat teacher center tetapi justru pembelajaran yang bersifat student center.
Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas ini juga menggunakan lembar observasi aktivitas guru yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranan guru dan kesesuaian pelaksaan terhadap rencana yang telah diatur sebelumnya. Dengan lembar observasi ini, peneliti dan guru observer dapat mengetahui tingkat kenyamanan dan kekurangan selama proses pembelajaran sehingga dalam proses refleksi dapat dievaluasi secara baik. Hasil evaluasi terhadap aktivitas guru dapat dijadikan acuan dalam menyikapi proses pembelajaran pada siklus selanjutnya. Peranan guru yang sesuai dengan sikap laku Among juga dapat terpantau secara nyata. Rekapitulasi data aktivitas Guru tiap siklus disajikan pada tabel 3.
Tabel 3
Rekapitulasi Data Aktivitas Guru
SIKLUS I II III IV V
JUMLAH SKOR 173 185,5 195 203 211
RERATA SKOR 3,9 4,2 4,4 4,6 4,8
PERSENTASI 78,6 84,3 88,6 92,3 95,9
KATEGORI BAIK SANGAT
BAIK SANGAT
BAIK SANGAT
BAIK SANGAT
BAIK
Pada siklus pertama, guru masih memiliki peranan yang dominan. Penyampaian prosedur pembelajaran, pembagian kelompok, intervensi terhadap diskusi kelas, dan penunjukkan terhadap peserta didik tertentu. Dari hasil evaluasi bersama guru observer kolaboratif, aktivitas seperti pada siklus pertama sudah mulai berkurang, hanya penampilan guru yang masih tegang dan manajemen waktu yang masih kurang tertib. Guru lebih cenderung pada posisi di depan kelas sambil memantau kegiatan peserta didik.
Peserta didik sudah mulai mengambil peranan sebagai subyek pembelajaran pada siklus ketiga. Posisi guru tidak lagi menetap pada satu titik tertentu, tetapi sudah merasa nyaman untuk berkeliling di dalam kelas sambil memantau jalannya kegiatan peserta didik. Guru sudah memberi irama diskusi kelompok kecil dengan memberi pertanyaan-pertanyaan kunci sesuai pokok bahasan. Tetapi guru juga masih terlihat mengintervensi dan memberikan kesimpulan di dalam diskusi kelompok kecil sehingga anggota kelompok cenderung malas melanjutkan diskusi.
Peran serta guru dalam proses pembelajaran mulai tertata dengan baik pada siklus keempat. Guru memberikan arahan agar pokok bahasan dapat didiskusikan secara baik dan berkembang. Guru tidak memberikan kesimpulan di dalam diskusi kelompok kecil tetapi hanya membantu menyimpulkan pada diskusi kelas. Pemberian pujian dan motivasi kepada peserta didik dilakukan guru setiap menyimak diskusi kelompok kecil. Penggunaan media pembelajaran berupa kertas besar dan peragaan badan oleh peserta didik saat presentasi kelas membuat pembagian waktu oleh guru tidak optimal.
Pada siklus kelima, antara guru dan peserta didik sudah memiliki kesepahaman tentang mekanisme pembelajaran. Penggunaan media ICT dan peragaan badan oleh peserta didik membuat diskusi kelompok dan diskusi kelas menjadi semakin menarik. Pokok bahasan yang dikaji adalah isu global yang berkaitan dengan kehidupan seharai-hari seperti global warming, hujan asam, dan hujan meteor menambah antusiasme peserta didik melakukan diskusi kelas. Presentasi kelompok yang didukung dengan audio, video, animasi serta gerak tubuh menjadikan suasana pembelajaran semakin menyenangkan. Guru telah mampu mengatur alokasi waktu pembelajaran dengan baik.
Observasi aktivitas peserta didik merupakan salah satu cara untuk menilai kinerja peserta didik selama proses pembelajaran. Lembar observasi aktivitas peserta didik terdiri dari 12 item, yaitu 10 item pernyataan positif dan 2 item penyataan negatif. Hasil analisis indikator observasi aktivitas peserta pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4
Hasil Analisis Indikator Observasi Aktivitas Peserta Didik Tiap Siklus
NO INDIKATOR OBSERVASI SIKLUS I
(%) SIKLUS II
(%) SIKLUS III
(%) SIKLUS IV
(%) SIKLUS V
(%)
1 Memperhatikan penjelasan guru 52,8 70,5 78,7 84,5 90
2 Membaca dan memahami bahan ajar 52,8 69 79,6 82,7 90,8
3 Diskusi bersama secara kelompok 51,4 69,5 78,7 83,6 90,4
4 Mengerjakan Lembar Kegiatan Kelompok 54,8 66,2 78,3 85 86,7
5 Mengajukan atau menanggapi pertanyaan 51,4 68,1 73,5 84,1 90
6 Menghargai atau menerima pendapat orang lain 53,3 68,6 79,6 81,8 88,8
7 Mempresentasikan hasil kegiatan kelompok 48,1 67,6 77,8 83,6 91,25
8 Membuat rangkuman hasil akhir pembelajaran 52,8 67,1 78,3 82,3 89,6
9 Mempersiapkan diri pada awal pembelajaran 53,8 70 79,6 83,2 85,8
10 Menjaga konsentrasi selama proses pembelajaran 51 68,6 79,6 84,1 90,8
11 Merasa bosan selama pembelajaran berlangsung 51 67,1 77,8 78,6 91,7
12 Melakukan aktivitas atau kegiatan di luar pembelajaran 50 67,6 75,6 78,6 88,3
RERATA PERSENTASI 51,9 68,3 78,1 82,7 89,5
Berdasarkan data dan hasil analisis observasi aktivitas dan sikap peserta didik selama proses pembelajaran menunjukkan kenaikan yang berarti. Dari jumlah peserta didik sebanyak 25 orang selalu menunjukkan peningkatan aktivitas selama penelitian berlangsung. Adapun rekapitulasi data keaktifan peserta didik selama penelitian dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5
Rekapitulasi Data Keaktifan Peserta Didik (dalam %)
NO KATEGORI SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS III SIKLUS IV SIKLUS V
1 Sangat Tinggi 0 0 20 36 72
2 Tinggi 40 44 72 52 24
3 Sedang 44 40 0 0 0
4 Rendah 0 0 0 0 0
5 Sangat Rendah 16 16 8 12 4
Jumlah 100 100 100 100 100
Dari tabel 5 tersebut di atas menunjukkan bahwa terdapat kenaikan keaktifan peserta didik selama lima siklus penelitian. Pada siklus pertama, hanya 40% peserta didik yang memiliki keaktifan tinggi. Hal ini dikarenakan belum terbiasanya peserta didik melakukan diskusi bersama di dalam kelas. Beberapa peserta didik masih menganggap bahwa keaktifan dinilai sebagai perintah semata. Keaktifan peserta didik pada siklus kedua hanya naik 4% pada kategori tinggi karena belum terjalin komunikasi yang baik antar peserta didik saat melakukan diskusi. Pada siklus ketiga, keaktifan peserta didik sudah naik level menjadi sangat tinggi dengan persentasi sebesar 20%. Penggunaan media pembelajaran yang variatif membuat peserta didik lebih dapat mengekspresikan diri dalam kegiatan pembelajaran sehingga pada siklus keempat keaktifan peserta didik menjadi 36% pada kategori sangat tinggi. Karena belum memenuhi kriteria keberhasilan penelitian, maka peneliti bersama guru obvserver kolaboratif menyepakati untuk mengadakan penelitian pada siklus kelima. Pada siklus ini, peserta didik dibebaskan menggunakan media pembelajaran berbasis ICT sehingga diharapkan proses pembelajaran lebih optimal. Hasil pada siklus kelima, keaktifan peserta didik meningkat menjadi 72% pada kategori sangat tinggi. Oleh karena itu, peneliti dan guru observer memutuskan untuk menyelesaikan penelitian ini pada siklus kelima. Pada kategori sangat rendah pada masing-masing siklus memiliki nilai persentasi karena dalam setiap siklus terdapat beberapa peserta didik yang tidak hadir dalam pembelajaran dikarenakan sakit. Jumlah peserta didik di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa sebanyak 25 orang dan tingkat kehadiran selama penelitian dinilai relatif tinggi dibanding sebelum penelitian.
Data observasi sikap peserta didik juga diperlukan untuk mengetahui bagaimana sikap peserta didik selama proses pembelajaran sistem Among berlangsung. Lembar observasi sikap peserta didik ini menggunakan skala Likert dengan indikator amatan sebanyak 8 dan subjek amatan sebanyak 25 orang. Tiap butir dibagi menjadi lima skala dan bobotnya yaitu; 1. Sangat tidak baik, 2. Tidak Baik, 3. Kurang baik/biasa saja, 4. Baik, 5. Sangat baik. Hasil analisis indikator observasi sikap peserta didik pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6
Hasil Analisis Indikator Observasi Sikap Peserta Didik Tiap Siklus
NO INDIKATOR OBSERVASI SIKLUS I (%) SIKLUS II (%) SIKLUS III (%) SIKLUS IV (%) SIKLUS V (%)
1 KETERBUKAAN 69,05 70 82,2 85,9 90,8
2 KETEKUNAN BELAJAR 71,4 77,6 83,5 84,5 91,7
3 KERAJINAN 74,8 79 82,2 85,9 89,2
4 TENGGANG RASA 71,9 77,6 83,5 83,6 90,8
5 KEDISIPLINAN 75,2 74,8 84,8 85,4 87,5
6 HORMAT PADA GURU 78,6 82,8 85,2 88,6 92,1
7 KERJASAMA 73,8 79,5 83,9 86,4 91,2
8 TANGGUNG JAWAB 72,8 78,1 84,8 86,8 91,7
RERATA PERSENTASI 73,4 77,4 83,8 85,9 90,6
Sebagai pendukung data keaktifan peserta didik, maka selama proses penelitian juga dilakukan observasi sikap peserta didik. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sikap peserta didik selama proses pembelajaran sehingga keaktifan peserta didik tidak dinilai sebagai perintah atau paksaan tetapi memang sebuah proses untuk mencari informasi. Hasil observasi sikap peserta didik selama lima siklus dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7
Rekapitulasi Data Sikap Peserta Didik (dalam %)
NO KATEGORI SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS III SIKLUS IV SIKLUS V
1 Sangat Tinggi 12 16 40 52 96
2 Tinggi 44 64 52 36 0
3 Sedang 28 4 0 0 0
4 Rendah 0 0 0 0 0
5 Sangat Rendah 16 16 8 12 4
Jumlah 100 100 100 100 100
Dari tabel 7 tersebut di atas menunjukkan bahwa terdapat kenaikan sikap peserta didik selama lima siklus penelitian. Pada siklus pertama, hanya 12% peserta didik yang memiliki sikap sangat tinggi. Hal ini dikarenakan masih memiliki sikap acuh terhadap proses pembelajaran. Beberapa peserta didik masih memandang bahwa mata pelajaran IPA tidak begitu penting. Sikap peserta didik pada siklus kedua hanya naik 4% pada kategori sangat tinggi karena belum menemukan tingkat kenyamanan yang baik antar peserta didik saat melakukan pembelajaran. Pada siklus ketiga mengalami kenaikan persentasi menjadi 40% dan pada siklus keempat menjadi 52% pada kategori sangat tinggi. Di akhir penelitian ini, sjumlah peserta didik meningkat menjadi 96% pada kategori sangat tinggi. Peserta didik sudah menunjukkan sikap saling menghormati dan bekerjasama dengan baik untuk mendapatkan informasi sesuai pokok bahasan yang ada. Selama proses pembelajaran kelima siklus terdapat beberapa peserta didik yang tidak berangkat dikarenakan sakit. Sehingga ketidakhadiran peserta didik mengakibatkan hasil observasi sikap ini memiliki nilai pada kategori sangat rendah.
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini berkahir pada siklus kelima karena hasil refleksi antara peneliti dan guru kolaborator. Berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran sistem Among pada mata pelajaran IPA di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta, menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar peserta didik dan aktivitas peserta didik. Di sisi lain, aktivitas guru juga sudah mencerminkan sikap laku among. Proses pembelajaran sistem among menerapkan metode pembelajaran aktif. Beberapa metode yang dipilih pada kelima siklus diseleksi berdasarkan hasil diskusi antara peneliti dan guru kolaborator serta pendekatan gaya belajar V-A-K dan Multiple Intelligences. Penggunaan media pembelajaran juga sangat mendukung proses pembelajaran yang optimal.
Setelah penelitian selesai, peneliti memberikan beberapa angket tanggapan peserta didik. Angket setelah perlakuan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana motivasi, minat dan sikap peserta didik selama perlakuan dalam pembelajaran mata pelajaran IPA. Ada tiga angket yang diberikan kepada peserta didik, yaitu angket motivasi, angket minat, dan angket sikap peserta didik. Hasil analisis angket motivasi, minat dan sikap peserta didik setelah perlakuan dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8
Distribusi hasil angket motivasi, minat dan sikap setelah perlakuan
NO KATEGORI MOTIVASI (%) MINAT (%) SIKAP (%)
1 Sangat Tinggi 64 48 56
2 Tinggi 36 52 44
3 Sedang 0 0 0
4 Rendah 0 0 0
5 Sangat Rendah 0 0 0
Jumlah 100 100 100
Hasil ketiga angket tersebut di atas, memberikan dukungan yang kuat terhadap keberhasilan penelitian ini. Selama proses pembelajaran, peserta didik melakukan aktivitasnya sehingga minat, motivasi dan sikap peserta didik semakin tumbuh. Hasil observasi dan hasil angket terhadap peserta didik sama-sama menunjukkan adaya respon positif terhadap proses pembelajaran sistem among. Oleh karena itu, pembelajaran sistem Among mampu meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan pembahasan, maka dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pembelajaran sistem Among pada mata pelajaran IPA di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa efektif meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar dengan cara sebagai berikut:
Menggunakan strategi pembelajaran aktif, yaitu Mind Mapping, Group to Group, Learning Start with a Question, Power of Two, dan Student-Created Studies.
Memanfaatkan penggunaan media pembelajaran yang variatif, yaitu kertas flano sebagai media gambar Mind Mapping kelompok, kartu pertanyaan, lembar kerja kelompok, modul pembelajaran dan media presentasi (laptop dan LCD Proyektor).
Memperhatikan karakteristik dan potensi peserta didik, yaitu dengan memberikan angket gaya belajar dan angket Multiple Intelligences sehingga kecenderungan karakteristik dan potensi peserta didik terukur dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode yang paling tepat.
Guru bersikap laku among, yaitu Ing Ngarsa Sung Tulada dengan cara menyajikan apersepsi tentang kejadian sehari-hari sesuai dengan pokok bahasan dan menunjukkan atusiasme terhadap proses pembelajaran, Ing Madya Mangun Karsa dengan cara mengatur keberlangsungan proses pembelajaran dan memfasilitasi setiap kebutuhan baik individu peserta didik maupun kelompok diskusi, dan Tut Wuri Handayani dengan cara mendorong agar terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif, proses interaksi yang dinamis serta memotivasi peserta didik untuk selalu aktif dalam pembelajaran.
Implementasi pembelajaran sistem Among pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan keaktifan peserta didik di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa. Peningkatan keaktifan peserta didik terukur meningkat selama lima kali siklus dan pada siklus kelima terdapat 72% peserta didik pada kategori sangat tinggi. Sikap peserta didik selama proses pembelajaran juga terukur dengan baik dimana pada siklus kelima terdapat 96% peserta didik memiliki sikap sangat baik.
Implementasi pembelajaran sistem Among pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik di kelas X SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa. Pada siklus kelima terdapat 80% peserta didik yang telah memenuhi ketuntasan belajar dengan rerata kelas sebesar 72,27 dan lebih besar dibanding nilai KKM yang telah ditentukan, yaitu 66,67.
DAFTAR PUSTAKA
Darsiti Soeratman. (1981). Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20, Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Darsiti Soeratman. (1981). Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Tenaga Kependidikan. (2008). Penelitian Tindakan Kelas.
Hariyadi. (1985). Sistem Among: Dari Sistem Pendidikan Ke Sistem Sosial. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
Mochammad Tauchid. (2004). Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
Paul Suparno. (2007). Metodologi Pembelajaran Fisika: Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
________. (2007). Riset Tindakan Untuk Pendidik. Jakarta: Grasindo.
Rochiati Wiriaatmadja. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara.
Suratman. (1989). Ajaran Ki Hadjar Dewantara dan Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
________. (1989). Dasar-dasar Konsepsi Ki Hajar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
________. (1989). Mengenang 100 Tahun Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
________. (1990). Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara dan penerapan Sistem Among. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
________. (1991). Sistem Among. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
Wasty Soemanto. (2003). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Wuryadi. (2009). Re-aplikasi Pendidikan Berbasis Kebudayaan. Yogyakarta: Pendapa Tamansiswa, Edisi 52, 18-19.
BIODATA
Lilik Setiono, S.Pd.Si., M.Pd. lahir di kota Batang, Jawa Tengah pada tanggal 11 Mei 1986. Pendidikan terakhir di pendidikan sains program pascasarjana UNY pada tahun 2011. Aktivitas saat ini sebagai trainer Hypnomotivasi (Mind Technology for Education) di bawah naungan Jasa Psikologi Indonesia (JASPI), tentor dan konsultan pembelajaran di lembaga SSL-Solution dan fokus mengembangkan program ekstrakurikuler Netpreneurship tingkat SMK dan Edupreneurship pada tingkat perguruan tinggi. Kegiatan lainnya adalah sebagai pengembang dan pendiri SMK Raudlatul ‘Ulum di kabupaten Batang dan pengembang program pendidikan pada lembaga pendidikan Batik Sakti di kabupaten Kebumen. Saat ini telah menikah dengan Farida Kamalia Syukriyani dan dikaruniai seorang putra bernama Athaya Efreza Muhammad Adz-dzaka.
